sponsor

Slider

Gambar tema oleh kelvinjay. Diberdayakan oleh Blogger.

Trending Video

Nasional

Peristiwa

Kesehatan

» » Cerita Mistis Horor Tameng Ghaib Pengemudi Truk, Begini Kronologinya!

Cerita Mistis Horor Tameng Ghaib Pengemudi Truk, Begini Kronologinya! - Supir truk, profesi satu ini kenyataannya bukan masalah ringan. Dalam perjalanannya, mereka bisa meniti waktu sampai minggu bahkan juga bulanan di jalanan. Sangat terpaksa mereka juga mesti tinggalkan rumah bersama keluragnya untuk sesuap nasi. Diluar itu, sang pengemudi juga dituntut konsentrasi tinggi untuk memerhatikan arah seputar jalan. Maklum, kendaraan besar itu memiliki titik buta serta begitu rawan alami kecelakaan. Jika sang pengemudi dikejutkan dengan pengendara lainnya yang ada dengan cara mendadak.

Cerita Mistis Horor Tameng Ghaib Pengemudi Truk, Begini Kronologinya!

Nyi Ageng Jarit

Bukan sekedar disana, sang sopir juga dituntut berani melalui jalan serta tikungan yang dipandang angker. Seperti contoh alas purwo, tikungan capali, tanjakan gombel dan lain-lain. Berjalan-jalan itu penuh sesak dengan narasi mistis dan diamini oleh beberapa pengemudi. Belum juga, masalah yang mencengangkan itu ada dari figur makhluk astral. Untuk masalah satu ini tentulah mesti ditangkal dengan masalah astral juga. Mereka kerap mengatakan Nyi Ageng Jarit. Dia merupakan seseok wanita yang memakai jarit atau jarik. Figurnya merupakan wanita manis dengan balutan jarit menutupi dianya. Lalu, ia juga memiliki selendang dengan rupa serta motif yang sama indahnya. Sedang rambutnya digelung semestinya konde.

Makhluk astral ini umumnya duduk dibelakang bak terbuka. Lalu, ia kerap mengibas-ngibaskan selendangnya untuk mengusir makhluk ghaib yang usil. Saya sempat memandangnya tengah mainkan selendang serta tersenyum. Saat itu, saya lakukan perjalanan dari Semarang menuju Yogya. Di Pring Surat, Temanggung, truk bermuatan pasir ada di depanku. Momen itu membuatku kaget 1/2 mati serta saya hampir saja oleng.

Uniknya, ia tersenyum serta selalu tertawa terkekeh-kekeh sekalian mengibarkan jaritnya. Kata beberapa orang, jika lihat figur itu, sangat baik melambangkan diri serta menunggunya berlalu. Masalahnya, ia dapat juga memecah konsentrasi pengendara lainnya jika ingin mendahului. Truk bertuliskan ‘Muatanku tidak seberat rindumu’ di bokongnya itu saya biarlah saja meluncur dengan kencang pada pukul 01. 00 malam.

Pengalaman kedua 

Momen di Temanggung pinggir itu kenyataannya membuatku berfikir 2x saat ada di pantat truk. Apalagi saat malam telah mulai larut. Tetapi ingin dikata apa, kadang saya pilih malam semacam itu karena perjalanan Semarang ke Yogyakarta dengan sepeda motor membuat waktu makin terpangkas. Lumrah saja, intensitas pengendara tidak sekitar ketoka siang, belum juga keamanannya telah ditanggung karenanya ada pos polisi di seputar jalan itu.

Tetapi, namanya juga nasib, saya menjumpai truk dengan pegangan yang sama. Nyi Ageng Jarit tengah duduk nyantai diatas truk. Saat itu jam 11. 30 malam saat saya hingga sampai di seputar desa Tempur. Jalan protokol Yogya-Semarang juga. Tidak tahu muatan apa yang ia bawa serta. Pandangananku tetutup oleh terpal yang disangga oleh bambu. Kesempatan ini, saya memantapkan diri untuk mengejarnya, tetapi selalu membaca apa pun yang dipandang suci. Ayat serta kalimat penghambat masalah ghaib sudah terkomat-kamit dari mulutku. Ia juga selalu tertawa geli sekalian melayang-layangkan jaritnya ke mukaku. Karena jengkel dengan tindakannya, saya ingin ambil selendang itu. Konon, selendang itu berguna untuk mencegah uilmu pelet.

Akan tetapi, usahaku merampas selendang berulang-kali tidak berhasil karena kelincahan si Nyai. Ia betul-betul lihai mainkan tarik-ulur kibasannya. Permasalahan lainnya, si pengemudi kelihatannya tahu kemampuanku untuk lihat ‘tamengnya’. Mungkin saja ia lihat dari spionnya karena ada selalu membuntutinya seputar 200 mtr.. Pada akhirnya, mereka juga meluncur dengan kecepatan penuh serta berbelok mengarah Magelang kampung.

loading...
«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar:

Leave a Reply