sponsor

Slider

Gambar tema oleh kelvinjay. Diberdayakan oleh Blogger.

Trending Video

Nasional

Peristiwa

Kesehatan

» » Inilah Cerita Rakyat Kalimantan Kisah Legenda Batu Menangis, Cerminan Anak Durhaka

Inilah Cerita Rakyat Kalimantan Kisah Legenda Batu Menangis, Cerminan Anak Durhaka - Legenda batu menangis. Narasi rakyat yang tidak lekang oleh waktu. Dari jaman SD sampai saat ini narasi ini masih tetap seringkali terdengar akrab ditelinga, bahkan juga seringkali juga diangkat di monitor kaca. Narasi yang seringkali kita dengar tentang anak yang durhaka ini memang tetap sukses membuat kita meneteskan air mata. Bagaimana tidak meneteskan air mata bila kita dengar narasi tentang figur seseorang ibu yang telah tua akan tetapi masih berjuang menghidupi anaknya sedang anaknya yang dihidupi tidak ada perasaan terima kasih benar-benar, bahkan juga membalasnya dengan kejahatan, benar-benar benar peribahasa air susu dibalas dengan air tuba. Nah, pasti kita semua tidak ingin kan jadi anak yang tidak berbakti pada ibu kita, karena surga kita juga di telapak kaki ibu kita. Nah, supaya kita tetap dapat jadi anak yang berbakti, karena itu di artikel ini akan saya bahas tentang narasi batu menangis dengan komplet, baca baik-baik ya! 

Inilah Cerita Rakyat Kalimantan Kisah Legenda Batu Menangis, Cerminan Anak Durhaka

Histori batu menangis 

Demikianlah narasi ini diketahui orang, narasi tentang seseorang janda yang hidup dengan anak perempuannya. Narasi ini datang dari pedalaman Kalimantan persisnya di kampung Bayur. Masyarakat kampung Bayur bermata pencaharian menjadi petani serta nelayan. Dengan mata pencaharian itu mereka dapat bangun rumah dan memenuhi keperluan keseharian. Hari bertukar hari, bulan bertukar bulan serta tahun bertukar tahu sampai satu saat terjadi musibah kebakaran di kampung Bayur. Kebakaran itu membuat rumah masyarakat terbakar habis tidak bersisa. Terjadinya kebakaran membuat masyarakat takut untuk tinggal di kampong Bayur serta akan memutus untuk beralih ke kota. Akan tetapi tidak semua masyarakat geser ke kota, beberapa dari mereka yang tidak dapat melepas tugasnya menjadi petani serta nelayan masih bertahan di kampung Bayur. Satu diantara masyarakat yang masih tinggal di kampung bayur itu merupakan seseorang wanita dengan seseorang anak perempuannya. Wanita itu merupakan seseorang janda karena suaminya sudah wafat. 

Hidup mesti selalu berjalan, seperti narasi batu menangis walau mesti bekerja sendirian serta menghidupi seseorang anak tidak membuat janda itu lalu pasrah serta menyerah pada nasib. Seseorang janda itu sehari-hari pergi ke ladang supaya ia masih dapat bertahan hidup. Makin lama janda itu beranjak tua, akan tetapi anak perempuannya tidak perduli akan keadaan orang tuanya, sehari-hari ia cuma percantik diri, memohon uang untuk beli pakaian serta kepentingan kecantikannya tanpa memerhatikan keadaan orang tuanya. Sampai datang saatnya ia mohon dibelikan bedak dan memaksa ibunya untuk menuruti kemauannya. 

Sang ibu yang begitu sayang pada anaknya pada akhirnya menuruti perintahnya, mereka berdua pergi ke pasar. Akan tetapi kepahitan justru menerpa janda itu, dalam perjalanan menuju pasar saat beberapa orang menanyakan siapakah wanita tua itu sang anak tidak mengaku jika dia merupakan ibunya. Sang anak malu mengaku jika itu merupakan ibunya karena ibunya cuma menggunakan baju compang-camping sedang ia sendiri begitu cantik serta memesona. Sampai pada akhirnya sang ibu tidak tahan dengar jawaban yang sama berkali-kali sekalian meredam tangis dalam hati ia berkata “ya Tuhan anakku sudah durhaka kepadaku, berilah hukuman untuk dia, hukumlah dia”. Tuhan yang maha pengasih mengabulkan keinginan janda itu. Doanyapun dipenuhi, dikit demi sedikit badan anak wanita itu menjadi batu. Dengan begitu menyesal atas kedurhakaannya pada ibunya sang anak menangis meminta ampun. Akan tetapi nasi sudah jadi bubur, keinginan maaf tidak dapat merubah keadaannya, semua badan anak wanita itu menjadi batu akan tetapi ia masih dapat menangis, beberapa orang yang berjalan serta memandangnya mengatakan batu menangis. Sampai sekarang narasi itu diketahui dengan legenda batu menangis. 

Nilai kepribadian legenda batu menangis 

 Legenda batu menangis mengajari pada kita jika suatu musibah bukan suatu akhir dari kehidupan. Batu menangis mengajari pada kita jika karenanya ada musibah kita mesti masih berupaya meneruskan hidup serta tidak bisa pasrah demikian saja. 

 Batu menangis menunjukkan pada kita jika kasih sayang seseorang ibu begitu tulus serta tidak hanya terbatas, bagaimanapun kondisi menerpa, seseorang ibu selalu berjuang untuk kebahagiaan anaknya. 

 Lewat narasi diatas, kita dapat lihat jika Allah tetap mengabulkan doa orangtua terpenting seseorang ibu yang dianiaya oleh anaknya, karena doa ibulah yang akan mengantarkan kita jadi sukses nantinya. 

Sesudah kita lihat sejarahnya dan nilai kepribadian dari narasi itu, karena itu saat ini saatnya kita selalu untuk jadi anak yang berbakti pada orangtua terpenting ibu kita. ingat ibu kita yang telah melahirkan kita dengan taruhan nyawa, telah membesarkan kita dengan kasih sayang selama hidup dan ibu kita yang tetap mendoakan kita supaya jadi yang terunggul, waktu iya kita tega mencaci maki ibu kita jangan pernah kita memperoleh musibah cuma karena kita durhaka seperti narasi legenda batu menangis.

loading...
«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar:

Leave a Reply