sponsor

Slider

Gambar tema oleh kelvinjay. Diberdayakan oleh Blogger.

Trending Video

Nasional

Peristiwa

Kesehatan

» » » Terungkap! Kisah Nyata Kutukan Gara-Gara Memindahkan Batu Nisan Yang Dialami Parjino

Terungkap! Kisah Nyata Kutukan Gara-Gara Memindahkan Batu Nisan Yang Dialami Parjino - Saya bernama parjino, seseorang pedagang buah di tepi jalan serta hidup di desa terpencil. Saya akan bercerita, cerita yang pertama saya alami seputar 3 tahun yang kemarin. Mungkin saja cerita ini dapat jadi pengalaman untuk anda serta ambil hikmahnya. Jika kita tidak bisa sama-sama menganggu masalah dengan makhluk hidup lainnya yang tidak tampak. Narasi ini bermula, dikarenakan mengalihkan batu nisan dalam suatu kuburan. 

Terungkap! Kisah Nyata Kutukan Gara-Gara Memindahkan Batu Nisan Yang Dialami Parjino

Sakit Yang Tidak Sempat Sembuh 

Tiap-tiap bulan, di desa saya tetap membuat pekerjaan kerja bakti. Pekerjaan ini dikerjakan tiap-tiap minggu kliwon. Yang dibikin bersih bukan sekedar seputar kampung, tetapi juga pemakaman (kuburan) di desa kami. Bersihkan rumput yang tumbuh, menyapunya serta bersihkan dahan yang kering. Pekerjaan ini memang tetap teratur diselenggarakan. Diambil minggu kliwon, agar jumat kliwon minggu setelah itu kondisi pemakaman telah bersih serta dapat didatangi beberapa masyarakat yang ingin ziarah ke sanak keluarganya. 

Peristiwa ini berlangsung seputar tahun 2014. Makin ke sini, pemakaman memang makin penuh banyak jenazah yang dikuburkan dari sana. Karena memang pemakaman ini telah berdiri lama. Pada acara kerja bakti itu, mas sumadi memerintah untuk mengalihkan batu nisan, yang telah jarang didatangi berziarah serta tidak paham siapa pakar warisnya. Agar sisi itu, dapat dipakai untuk mengubur jenazah lainnya yang wafat nanti. 

Arah mengalihkan ini sebetulnya baik, karena untuk meminimalkan penuhnya pemakaman. Sesudah didiskusikan dengan masyarakat lainnya, pada akhirnya kebanyakan orang sepakat untuk mengalihkan beberapa batu nisan yang tidak tertangani serta tidak ada pakar warisnya lagi. Saya serta mas sumardi coba mengusung batu nisan itu, didekat sungai yang tidak jauh dari pemakaman. Kira-kira ada 5 nisan yang kami pindahkan. 

Narasi dikarenakan mengalihkan batu nisan ini masih tetap berlanjut. Mas sumardi sampai sulit bernafas, karena membawa batu nisan sangat berat. Bahkan juga ada batu nisan yang terbuat dari batu kali. Hingga merasa lebih berat, waktu dipindahkan. Sesudah tuntas mengalihkan semua, saya serta mas sumardi ambil semua alat yang dipakai untuk bersih-bersih serta bergegas untuk pulang. 

Sampai rumah, saya secara langsung bersihkan diri serta shalat. Malam harinya, saat tidur badan saya merasa panas dingin. Seperti orang tengah demam. Saya berfikir, mungkin saja kelelahan, pada akhirnya akan memutus untuk selekasnya tidur, meskipun jam masih tetap seputar 1/2 sembilan. Saat tidur, saya punya mimpi didatangi oleh 2 orang kakek yang menggunakan pakaian serba putih. Bajunya, seperti ulama jaman dahulu. Dengan menggunakan surban menjadi penutup kepala. 

Beliau berkata dengan bhs yang susah dipahami. Yang saya mengerti, mereka menanyakan dimana letak rumah mereka. Saya tidak dapat menjawab, karena memang tidak paham siapa mereka berdua serta dimana tempat tinggalnya. Seputar jam 2 pagi hari, saya terbangun dalam kondisi badan makin kronis. Panas dingin sampai menggigil. Dikasih obat penurun panas serta teh hangat juga tidak memberi dampak benar-benar. Saat hampir 3 hari, saya tidak dapat tidur pulas. Tubuh sakit serta tiap-tiap tidur tetap punya mimpi didatangi oleh 2 kakek yang bertanya tempat tinggalnya. 

Saya juga akan memutus untuk kontrol ke puskesmas. Di puskemas berjumpa dengan mas sumadi yang rasakan hal sama. Bahkan juga mas sumadi sampai tidur mengigau karena terasa terancam. Kami terasa jika ada satu hal yang tidak beres. Pada akhirnya kami akan memutus untuk berjumpa dengan sesepuh di desa kami. Kami berdua bercerita semua yang berlangsung. Sesepuh berkata, kalaupun mengalihkan batu nissan tidak bisa asal-asalan. Kalaupun juga ingin mengalihkan mesti ada upacara dahulu menjadi sinyal penolak bala. 

Pada akhirnya dibantu dengan masyarakat, kami akan memutus untuk kembalikan batu nisan yang sudah kami pindahkan. Tetapi anehnya, sesudah semua batu nisan dipindahkan. Badan saya merasa lebih sehat, bahkan juga seperti tidak habis sakit benar-benar. Saya tidak paham, apa sakit itu memang masalah dari makhluk halus dikarenakan mengalihkan batu nisan ataukah tidak. Yang pasti kita mesti sama-sama menghargai serta menghormati makhluk halus yang tidak kasat mata. Kalaupun kita tidak menganggu mereka juga tidak mengganggu.

loading...
«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar:

Leave a Reply